Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka

IMAM MA’RUF MASYKUR

Majalah Hidayah Hal.64-69 (Januari 2002)

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Pada umumnya, kebanyakan pondok pesantren di Indonesia menekankan kurikulumnya pada kajian kitab kuning, tahfIdz al-qur’an, tafsir al-qur’an, atapun tilawah al-qur’an. Namun pondok pesantren yang satu ini memiliki keunikan tersendiri di banding pondok pesantren yang lain. Sesuai  namanya, Pondok Pesantren Kaligrafi Al-qur’an Lemka lebih menekankan kurikulum pengajaran pada para santrinya pada kemampuan seni kaligrafi Islam. Walaupun demikian, di pondok pesantren ini tetap diajarkan kitab kuning, muhadloroh atau latihan ceramah dan diskusi tentang wacana keislaman.


Meskipun pondok pesantren ini relatif masih muda dan sedarhana, namun perjalanannya para santri yang menuntut ilmu di pondok pesantren ini telah mampu meraih prestasi yang luar biasa, baik di pentas nasional maupun internasional, lebih-lebih pentas lokal.

Pondok pesantren ini terletak dilokasi yang menarik, yaitu daerah wisata Salabintana. Di atas bangunan pondok pesantren tersebut terletak Bukit Halimun. Sebelah belakangnya, terdapat Taman Wisata Scapa, sebelah kiri terdapat hamparan sawah, dan sebelah kanannya ada sungai dengan bebatuan yang dapat digunakan untuk merenung dan melukis. Dengan lokasi yang ideal tersebut, membuat pesantren ini menjadi tempat yang kondusif bagi para santri.

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Kaligrafi Al-qur’an Lemka
Pondok pesantren ini didirikan dari sebuah cita-cita seorang Ulama dan Dosen IAIN Jakarta serta Kaligrafer Internasional, yaitu Drs. H. Didin Sirojuddin AR, M.Ag. pesantren ini resmi berdiri pada hari Ahad, tanggal 09 agustus 1998. Adapun lokasi Pondok Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Lemka ini terletak di Jl. Bhineka Karya Rt.003/06 Desa Karamat, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Cita-cita pendirian pondok pesantren ini mulai dicanangkan pada tahun 1986, yaitu pada saat diadakan penataran dewan MTQ jawa Barat di Bandung. Dalam forum tersebut, Bapak Sirojuddin melontarkan gagasan dan keinginannya mendirikan pesantren khusus kaligrafi di daerah Sukabumi. Padahal pada saat itu, belum terpikir dalam benaknya, di Sukabumi sebelah mana akan didirikan pondok pesantren itu, bahkan ia sendiri belum begitu kenal lokasi-lokasi di Sukabumi.

Gagasan mendirikan Pondok Pesantren Kaligrafi ini merupakan gagasan berani, karena sebelumnya tidak ada pesantren yang mengkhususkan seni kaligrafi, di samping tilawah, tahfidz, dan tafsir.

Ternayata, tidak mudah mewujudkan cita-cita tersebut. Banyak hambatan dan kendala yang harus dihadapi lelaki jebolan Pondok Pesantren Gontor ini. Kendala pertama, ia kesulitan mencari lokasi. Enam kali ia gagal mencari lokasi yang tepat bagi pondok pesantren yang dicita-citakannya itu. Meskipun gagasan awalnya pondok pesantren tersebut hendak ia dirikan di daerah Sukabumi, tetapi di Bogor, Cibinong, bahkan di Jakarta sendiri. Anehnya, dari semua lokasi yang dikunjunginya, akhirnya ditemukanlah lokasi yang tepat di Sukabumi seperti gagasan awal.

Drs. Didin mulai membuka pesantren ini setelah salah satu keluarga di Sukabumi memberikan wakaf  tiga bilik rumah. Kemudian dissusul warga lainnya yang mewakafkan sebuah musholla dan kolam serta sebidang tanah. Selanjutnya, muncul kendala lain, yaitu mencari santri dan peserta didik yang memiliki minat untuk memperdalam dunia seni kaligrafi Islam. Ia mencoba menawarkan kepada para khattat (penulis khat) yang ada di Jawa Barat, namun, sambutannya kurang memuaskan, karena kebanyakan dari mereka memiliki kendala masing-masing, seperti masih kuliah dan sebagainya. Karena itu,  beliau sampai berkeliling sampai ke daerah-daerah untuk mempromosikan pondok pesantrennya. Bahkan, beliau pernah mengirim sebanyak 300 surat ke berbagai daerah untuk meminta utusan dari berbagai daerah tersebut yang mau belajar kaligrafi Islam. Akan tetapi tidak banyak yang mengirimkan utusan sebagai santri dan peserta didik di Pesantren Kaligrafi tersebut.

Sebenarnya, pendirian Pesantren Kaligrafi itu banyak mendapat respon positif dari berbagai kalangan yang merindukan adanya pesantren tersebut, namun hal itu belum banyak mendongkrak minat para peserta didik. Seringkali para peserta didik atau santri datang bergantian atau berotasi dalam setiap tahunnya, tidak menetaap lama di pondok ini.

Saat ini ada kurang lebih 9 orang santri dari daerah dan 25 orang santri dari Jakarta dan Jawa Barat ditambah 92 orang santri TKA/TPA Plus Kaligrafi. Dan tidak lama lagi  ada beberapa daerah yang menyatakan akan mengirimkan santri ke pesantren tersebut.

Pondok pesantren ini terbuka bagi para santri dari berbagai daerah manapun. Untuk mendaftar di pondok pesantren ini, tidak ada syarat ijazah formal, seperti SD, SLTP dan seterusnya. Sebab yang dinilai adalah kemahiran dan minat dari santri sendiri. Namun pada umumnya yang datang ke pondok pesantren ini adalah mahasiswa non aktif maupun sarjana.

Sebenarnya pondok pesantren ini lebih memilih calon yang memiliki sedikit kemampuan dan punya kemauan atau minat besar untuk mengembangkan Kaligrafi Al-Qur’an. Namun, dalam kenyataannya, kebanyakan yang datang ke pondok pesantren ini, terutama yang di luar Jawa, adalah para khattat daerah yang sudah sering menjuarai MTQ, baik tingkat kabupaten maupun tingkat propinsi. Walaupun demikian, para khattat yang masuk ke pondok pesantren ini harus memulai dari titik nol, dari tidak bisa apa-apa. Tujuannya agar proses pembinaan berjalan lebih mudah dibandingkan jika mereka tetap membawa kemampuan awalnya.

Kenapa Pesantren Kaligrafi?
Ada beberapa alas an didirikannay pondok pesantren yang lebih menekankan kepada kemampuan menulis kaligrafi ini. Pertama, cita-cita pak didin yang ingin menyerahkan hidupnya bagi pengembangan dan pengabdian seni kaligrafi al-Quran. Kedua, LEMKA (Lembaga Kaligrafi Al-Quran) yang didirikan Pak Didin pada tahun 1985 di IAIN Jakarta, pada perjalanan selanjutnya membutuhkan sebuah Laboratorium Kaligrafi, sebab selama ini peserta LEMKA banyak yang pulang pergi. Ketiga, banyaknya kebutuhan wilayah dan daerah terhadap pembina dan instruktur kaligrafi. Karena itu, pesantren ini juga diharapkan menjadi sebuah  Up Grading Pembinaan Kader
Wilayah. Keempat, pondok pesantren ini diharapkan mampu melahirkan santri dan peserta didik yang handal di masa depan, terutama dalam bidang seni kaligrafi al-qur’an.

                   Kurikulum
            Pondok pesantren kaligradi al-qur’an ini merupakan pesantren diklat (pendidikan dan latihan). Karena itu, hamper seluruh aktifitasnya difokuskan pada kegiatan yang berkaitan dengan seni kaligrafi. Meskipun demikian, materi lain juga diajarkan, seperti membaca kitab kuning, muhadloroh atau ceramah dan diskusi.

            Di samping hal di atas ada dua hal pokok yang juga menjadi perhatian serius dalam pengembangan kurikulum. Pertama, kemampuan (skill) melukis dan menulis dengan cara praktek lapangan, melalui kunjungan ke museum, pemeran terutama di Jakarta dan atraksi lomba dengan menyebar ke berbagai daerah untuk mengikuti perlombaaan. Para santri juga dibebeni dengan tugas mandiri, yaitu tugas yang diberikan untuk melatih kemampuan mereka dengan membuat suatu karya dengan batas tertentu. Biasanya, pihak pesantren memberikan waktu-waktu tertentu untuk praktek ke lapangan dengan cara menulis nama atau berdagang keliling atau bentuk lain, hingga dapat menambah penghasilan tambahan, disamping menguji kemampuan.

Kedua, peningkatan wawasan mengenai kaligrafi dan seni islam. Ada materi yang khas yaitu Bahsul Masail al-Fanniah (membahas masalah-masalah dan literatur yang berkaitan dengan seni dan dunia islam). Kurikulum ini selalu disesuaikan dengan peta perkembangan seni kaligrafi.

Biaya
Selama belajar di pondok pesantren ini para santri diwajibkan membayar uang makan dan uang pondokan sebesar Rp150.000,- sebulan. Iuran sebesar itu sesungguhny belum cukup untuk memenuhi kehidupan mereka. Namun, kekurangan tersebut ditutupi melalui bantuan dari para dermawan.

Biaya ini belum termasuk peralatan yang berkenaan dengan seni kaligrafi, seperti cat warna dasar, kuas, bahan dan lain sebagainya. Semua peralatan tersebut ditanggung para santri sendiri. Meskipun demikian, bagi para sentriyang merupakan utusan daerah, maka pihak pondok pesantren berusaha mendapatkan subsidi bagi santrinya dari daerah yang mengirimkannya.

Biografi Ringkas Drs. Didin Sirajuddin AR, M.Ag.
Drs. Didin Sirojuddin, MAg. yang  biasa dipanggil Pak Didin ini dilahirkan di Kuningan  Jawa Barat, 15 Juli 1957. Sejak kecil, ia sudah mengenal dunia seni lukis. Daerah seni itu mengalir dari kakeknya geris ibu yang ahli memahat bangunan dengan sangat rapi.

“Saya sudah melukis seak sebelum mesuk bangku SD. Mulai dengan peralatan sangat sederhana, arang dapur, kuas dari kayu yang ditumbuk, serta kulit pohon sebagai media, sebagaimana layaknya orang zaman purba,” kanang Pak Didin.

Didin mengaku, bahwa dirinya baru mengenal water colour dan kuas sederhana setelah masuk SD. Di tingkat SD, beliau sudah terkenal sebagai pelukis. Beliau pernah mendapat hadiah ataas prestasi melukisnya. Hadiah tersebut beliau belikan seekor kambing. Kemudian kambing itu dititipkan untuk dipelihara, sehingga semakin hari beertambah banyak. Beliau juga pernah mengumpulkan berbagai macam bunga, lalu ditumbuk menjadi bahan pewarna. Hal itu ternyata banyak dilakukan para pelukis besar untuk membuat oil painting.

Setelah masuk ke Pondok Pesantren Modern Gontor Jawa Timur pada tahun 1969, beliau baru menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya. Di sana ada pelajaran khat atau seni kaligrafi. Pesantren tersebut memang sangat mendorong lahirnya seniman dan banyak aktivitas kesenian. Beliau mendirikan SA-KISDA (Sangar Pelukis Darussalam) yang sekarang berkembang berbagai jenis kursus-kursus seni Islam. Kemudian men-dirikan AKLAM (Asosiasi Kaligrafer Darus-salam).

Namun akibat keterbatasan buku panduan di bidang kaligrafi sempat menyulut rasa haus beliau. Terbetiklah keinginan beliau untuk membuat perkumpulan para khattat dan menuliskan sebuah karya di bidang seni kaligrafi. Tahun 1975, ia lulus dari pondok pesantren tebu ireng dan melanjutkan pendidikannya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sepuluh tahun kemudian beliau mendirikan LEMKA (Lembaga Kaligrafi Al-Quran) IAIN Jakarta tahun 1985. baru tiga belas tahun kemudian yaitu tahun1998 cita-cita mendirikan pesantren terwujud.

Sebagai penulis kaligrafi professional, segudang prestasi pernah diraih bapak satu anak ini, diantaranya sebagai juara MTQ Nasional, dan Juara I Peraduan Menulis Khat ASEAN di Brunei Darussalam tahun 1987. Beliau juga menjadi Dewan Hakim Kaligrafi Di berbagai perlombaan baik nasional maupun internasional dan mengikuti berbagai pameran kaligrafi. Dari tangan beliau ini pula telah lahir berbagai macam buku seni kaligrafi al-Quran.


Masykur, Imam Ma’ruf. (2002, Januari). PONDOK PESANTREN KALIGRAFI AL-QUR’AN LEMKA. Hidayah [majalah]. Hal.64-69.


Mutiara Hikmah Kaligrafi

Oleh : Drs. H. Didin  Sirojuddin AR, M. Ag
 “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena.
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS Al-‘Alaq/96: 1-5)
  “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis.”
(QS Al-Qalam/68: 1)
Katakanlah: “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku,
maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku,
meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”
(QS Al-Kahf/18: 109)
“Seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
(QS Luqman/31: 27)
  “Allah telah menciptakan nun, yakni dawat (tinta).”
(HR Abu Hatim dari Abu Hurairah)
  Setelah Allah menciptakan nun, yakni dawat (tinta) dan telah menciptakan pula kalam  (pena), lantas Dia bertitah: “Tulislah!” Jawab kalam: “Apa yang hamba tulis?” Jawab Allah:
“Tulislah semua yang ada sampai hari kiamat.”
(HR Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas)
  Yang mula-mula diciptakan Allah ialah kalam, lalu diperintahkan Allah supaya dia menulis.
Maka bertanyalah dia kepada Tuhan: “Apa yang mesti hamba tuliskan, ya Rabbi?” Allah menjawab:
“Tulislah segala apa yang telah Aku takdirkan sampai akhir zaman.”
(HR Imam Ahmad bin Hanbal dari A-Walid bin Ubbadah bin Samit)
2
“Ikatlah ilmu dengan tulisan! Ilmu itu adalah buruan, tulisan adalah talinya”
(HR Tabrani dalam Al-Kabir)
“Ilmu adalah buruan, tulisan adalah talinya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kukuh!”
(Imam Syafi’i)
Kepada orang yang mengeluhkan kesulitan hapalannya, Rasulullah SAW menasihatkan:
“Bantulah dengan tangan kananmu untuk memperkuat hapalanmu.”
(HR Turmuzi)
Khat yang indah menambah kebenaran semakin nyata.”
(HR Dailami dalam Musnad al-Firdaus)
“Di antara kewajiban orangtua atas anaknya adalah: mengajarinya menulis,
memperbagus namanya, dan mengawinkannya apabila telah dewasa.”
(HR Ibnu Najjar)
Kepada sekretarisnya Rasulullah SAW menyarankan:
“Apabila engkau menulis, taruhlah pulpenmu di telingamu, karena cara itu memberimu konsentrasi penuh.”
(HR Ibnu Asakir di dalam Tarikhnya)
Kepada sekretarisnya, Muawiyah ra, Rasulullah SAW menyarankan: “Tuangkan tinta, raut-miringkan pena, tepatkan posisi ba’, renggangkan sin, jangan sumbat mim, indahkanlah Allah,
panjangkan Ar-Rahman, dan baguskan Ar-Rahim.”
(HR Al-Qadi Iyad dari Ibnu Abi Sufyan dalam Al-Syifa’)
Kepada Abdullah Rasulullah SAW mengingatkan: “Wahai Abdullah, renggangkan jarak spasi, susunlah huruf dalam komposisi, peliharalah proporsi bentuk-bentuknya, dan berilah setiap huruf hak-haknya.”
(Al-Hadis)
“Barangsiapa meninggal dunia, sedangkan warisannya adalah catatan dan tinta, ia niscaya masuk surga.”
(HR Dailami dalam Irsyad al-Qulub)
“Barangsiapa meraut pena untuk menulis ilmu, maka Allah akan memberinya pohon di syurga
yang lebih baik daripada dunia berikut seluruh isinya.”
(Al-Hadis)
3
Khat /kaligrafi adalah tulisan huruf Arab tunggal atau  bersusun yang berpedoman  kepada keindahan sesuai dengan sumber-sumber dan peraturan-peraturan seni yang telah diletakkan dasar-dasarnya
oleh para tokoh di bidangnya.”
(Muhammad Tahir al-Kurdi al-Makki dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)
“Kaligrafi adalah tradisi yang diperindah  gerakan jemari dengan pena
berdasarkan kaedah-kaedah khusus.”
(Muhammad Tahir al-Kurdi al-Makki dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)
Khat/kaligrafi adalah ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya, dan tatacara merangkainya menjadi sebuah tulisan yang tersusun. Atau apa-apa yang ditulis di atas garis, bagaimana cara menulisnya dan menentukan mana yang tidak perlu ditulis,
serta menggubah ejaan yang perlu digubah dan menentukan cara menggubahnya.”
(Syeikh Syamsuddin al-Akfani dalam Irsyad al-Qasid bab “Hasyr al-Ulum”)
“Kaligrafi itu tersirat dalam pengajaran guru, tegak profesionalnya tergantung banyak latihan, dan kelanggengannya pada pengamalan agama Islam.”
(Ali bin Abi Talib)
“Keindahan kaligrafi tersembunyi dalam pengajaran guru, tegak profesionalnya tergantung banyak latihan
dan menyusun komposisi, dan kelanggengannya bagi seorang muslim adalah dengan
meninggalkan segala larangan dan menjaga salat, padahal asal-usulnya hanyalah
mengetahui huruf tunggal dan huruf sambung.”
(Ali bin Abi Talib)
“Kaligrafi adalah arsitektur spiritual walaupun lahir dengan perabot kebendaan.”
(Euclides)
“Kaligrafi adalah ilmu ukur spiritual yang diekspresikan melalui peralatan material. Apabila engkau perbagus penamu, berarti kau perbagus kaligrafimu; namun apabila engkau abaikan penamu,
berarti telah kau abaikan kaligrafimu.”
(Aminuddin Yaqut al-Musta’simi dari Bani Abbas)
“Tulisan adalah lidahnya tangan, karena dengan tulisan itulah tangan berbicara.”
(Ubaidullah bin Abbas)
4
“Kaligrafi itu lembut seperti awan yang berarak-arakan dan gagah seperti naga yang sedang marah.”
(Wang Hsichih)
“Kaligrafi adalah pengikat akal pikiran.”
(Plato)
“Kaligrafi itu adalah akar dalam ruh walaupun lahir melalui peralatan materi.”
(Al-Nazzam)
“Pena bagi seorang penulis bagaikan pedang bagi seorang pemberani.”
(Ibnu Hammad)
“Akal manusia utama berada di ujung penanya.”
(Garar al-Hikam)
“Kalau bukan karena pena, dunia tidak akan berdiri, kerajaan tidak akan tegak.”
(Iskandar Zulkarnain dari Macedonia)
“Kaligrafi adalah lukisan dan bentuk harfiyah yang menunjukkan kepada kalimat yang didengar
yang mengisyaratkan apa yang ada di dalam jiwa.”
(Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah)
“Persoalan agama dan dunia berada di bawah dua hal: pena dan pedang. Pedang berada di bawah pena.”
(Raja-raja Yunani dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)
“Apabila, suatu hari,  para pahlawan pemberani bersumpah
Dengan pedang mereka sambil menghunuskannya:
Demi keagungan, demi kemuliaan.
Cukuplah pena penulis sebagai kemuliaan dan ketinggian sepanjang abad,
Sebagaimana Allah pernah bersumpah: demi kalam!”
(Abu al-Fath al-Busti dalam Seni Kaligrafi Islam)
“Kaligrafi adalah produk kebudayaan yang menguat dengan kekuatan kebudayaan
dan melemah dengan lemahnya kebudayaan.”
(Abdul Fattah Ubbadah dalam Intisyar al-Khat al-‘Arabi fil ‘Alam al-Syarqi wal ‘Alam al-Gharbi)
5
“Apabila kata-kata merupakan makna yang bergerak, sebaliknya tulisan adalah makna yang bisu.
Namun, kendatipun bisu, ia melakukan perbuatan bergerak karena isinya yang mengantarkan penikmatnya kepada pemahaman.”
(D. Sirojuddin AR dalam Seni Kaligrafi Islam)
“Alquran adalah yang pertama kali mengangkat mercusuar kaligrafi Arab.”
(Abdul Fattah Ubbadah dalam Intisyar al-Khat al-‘Arabi fil ‘Alam al-Syarqi wal ‘Alam al-Gharbi)
“Alat kata-kata adalah lidah, sedangkan alat tulisan adalah pena atau kalam. Keduanya berbuat untuk kepentingan satu sama lain guna mengekspresikan makna-makna final.”
(D. Sirojuddin AR dalam Seni Kaligrafi Islam)
“Satu gaya kaligrafi sudah ditentukan secara ketat aturan-aturannya. Keserasian antar huruf, merangkai, komposisi, sentakan, bahkan jarak spasi mesti diukur dengan serasi. Jika tidak, hasilnya ngawur.”
(Prof. H.M. Salim Fachry, nasihat kepada muridnya, D. Sirojuddin AR)
“Khusus bagi para pelukis yang kurang mengenal tulisan Arab dihimbau agar hendaknya meneliti lebih cermat khususnya ayat-ayat Alquran, juga teks-teks Arab lainnya sebelum digalok dengan lukisan mereka. Dengan demikian, tidak akan terjadi salah tulis atau kekeliruan imla’
(K.H.M. Abd. Razaq Muhili ,nasihat kepada muridnya, D. Sirojuddin AR)
“Tulisan jelek, jika diikuti oleh kaedah imla’iyah yang betul masih bisa dimaafkan. Sebaliknya, jika kekeliruan terletak pada kaedah imla’iyah, maka itu barulah benar-benar suatu kesalahan. Bahayanya, jika itu terjadi pada penulisan ayat-ayat Alquran, sebab akan menyimpang dari arti yang sesungguhnya.”
(K.H.M. Abd. Razaq Muhili, nasihat kepada muridnya, D. Sirojuddin AR)
“Kaligrafi dianggap benar apabila memiliki lima prinsip disain, yaitu: taufiyah (selaras), itmam (tuntas, unity), ikmal  (sempurna, perfect), isyba’ (paralel, proporsi), dan irsal  (lancar, berirama).”
(Ibnu Muqlah dalam Subhul A’sya)
“Tata letak yang baik (husnul wad’i) kaligrafi menghendaki kepada perbaikan empat hal, yaitu: tarsif  (formasi teratur seimbang, balance), ta’lif  (tersusun, arranged), tastir (selaras, beres, regular), dan tansil  (maksudnya bagaikan pedang atau lembing saking indahnya, excellent).”
(Ibnu Muqlah dalam Subhul A’sya)
6
“Seperempat tulisan ada pada hitam tintanya,
Seperempat: indahnya hasil cipta penulisnya.
Seperempat datang dari kalam,
Engkau serasikan potongannya.
Dan pada kertas-kertas,
Muncul nilai keempat.”
(Senandung Putaran Empat Perempat dalam Belajar Kaligrafi: Terampil Melukis Jld. 7)
“Hendaknya kamu belajar kaligrafi yang bagus, karena dia termasuk kunci-kunci rezeki.”
(Ali bin Abi Talib)
“Pelajarilah kaligrafi yang betul,
Wahai orang yang memiliki akal budi,
Karena kaligrafi itu tiada lain
Dari hiasan orang yang berbudi pekerti.
Jika engkau punya uang,
Maka kaligrafimu adalah hiasan.
Tapi jika kamu butuh uang,
Kaligrafimu, sebaik-baik sumber usaha.”
(Al-Hafizh Usman dari Turki Usmani)
“Kaligrafi adalah harta simpanan si fakir dan hiasan Sang Pangeran.
Betapa kerap kaligrafi benar-benar menambah kejelasan dengan kekuatan mengelokkan tinta.”
(Syair Arab dalam Disain Pelajaran Kursus Kaligrafi I)
“Kaligrafi akhirnya jadi lapangan bisnis yang luas dan mendapat tempat yang istimewa yang belum pernah dicapai sebelumnya, baik di kalangan periklanan, informatika, maupun brosur-brosur niaga
dan lembaga-lembaga non profit yang menyebar dengan aneka warna.”
(Kamil al-Baba dari Libanon dalam Ruh al-Khat al-‘Arabi)
“Muliakanlah anak-anakmu dengan belajar menulis, karena tulisan adalah perkara paling penting
dan hiburan paling agung.”
(Ali bin Abi Talib)
“Seorang kaligrafer jenius melihat pada apa-apa yang  tidak kelihatan oleh para kaligrafer biasa.”
(Kamil al-Baba dari Libanon dalam Ruh al-Khat al-‘Arabi)
7
“Kaligrafi, dia adalah lukisan huruf, posisinya tidak pernah mandek, bahkan terus berkembang menyusuri waktu. Maka, kita sekarang tidak lagi menulis khat Kufi primitif yang ditulis orang Arab dulu-dulu.
 Kita telah terbiasa dengan tulisan yang telah banyak berkembang melintasi
masa-masa Islam yang saling berganti.”
(Kamil al-Baba dari Libanon dalam Ruh al-Khat al-‘Arabi)
“Saya tidak mau menghambat dinamika atau dynamic dari kaligrafi, form of  kaligrafi itu. Tetapi saya bisa bebas  dengan hanya menggambar karakter huruf itu saja, ada yang melengkung, ada yang tegak, ada yang ke kiri, ada yang ke kanan, dengan titik, dengan lengkungan-lengkungan yang sangat ekspresif.”
(A.D. Pirous dalam A.D. Pirous: Vision, Faith and Journey in Indonesian Art, 1955-2002)
“Dengan mengambil tulisan Arab itu, sudah dibawa kita kepada ikon tertentu, dunia tertentu,
yaitu spiritual, meditatif, kontemplatif….”
(A.D. Pirous dalam A.D. Pirous: Vision, Faith and Journey in Indonesian Art, 1955-2002)
“Huruf bagi saya adalah materia hidup yang saya olah sekehendak saya kapan saya mau.”
(Naja al-Mahdawi dari Tunisia dalam Fikrun wa Fannun)
“Semua huruf, bila engkau perhatikan,
Maka bagian-bagiannya tersusun dari noktah.
Bentuk seluruh huruf terambil
Dari satu bentuk alif yang dibolak-balik.
Sehingga engkau lihat bangunannya
Memiliki rumus-rumus yang menyeluruh.
Maka, pandanglah dengan mata hati
Supaya engkau memperoleh pelajaran.”
(Syair Arab dalam Cara Mengajar Kaligrafi: Pedoman Guru)
“Melukis bagi saya adalah hiburan. Apalagi saat huruf-huruf Alquran itu senyawa dengan cat, terasa ada nilai plus dan kenikmatan luarbiasa. Lebih nikmat daripada sekedar curat-coret dengan tinta cina hitam di atas kertas putih. Saya sadar, seorang khattat harus juga seorang pelukis. Harus….”
(D. Sirojuddin AR dalam Belajar Kaligrafi: Terampil Melukis,  Jld. 7)
“Sesungguhnya aku melukis kaligrafi dan tidak menulisnya.”
(Muhammad Sa’ad Haddad dari Mesir dalam Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam)
8
So, I sacrified myself, saya batasi ekspresi-ekspresi bebas saya itu, tapi saya kembalikan kepada nilai-nilai yang saya bisa gali secara lebih banyak dan secara lebih berbobot dari Alquran itu sendiri…. Saya menanam ke dalam lukisan-lukisan suatu konsep berfikir atau suatu nilai-nilai lain yang filosofis, yang membuat orang itu bisa lebih menikmatinya. Aesthetic pleasure dan ethical pleasure together.”
(A.D. Pirous dalam A.D. Pirous: Vision, Faith and Journey in Indonesian Art, 1955-2002)
“Tampilan kaligrafi harus hidup dan bergerak, sebagaimana sebagian huruf ingin saling rangkul atau bebas ketika sedang berpegangan atau saling sokong satu sama lain. Apabila bentuknya miskin dari sifat dinamis tersebut, menjadilah ia kering dan membosankan mata. Sebaliknya, engkau pasti ingin melihat yang bentuknya menyenangkan, sangat elok, atau memberi kesan penuh khayal.”
(Hassan Massoudy dari Perancis dalam Hassan Massoudy Calligraphe)
“Sebuah lukisan akan memiliki nilai plus dengan penyusupan unsur kaligrafi ke dalamnya. Jika temanya ayat-ayat Alquran, maka nilai plus itu akan terasa semakin agung, karena memancarkan pesan-pesan suci yang dalam yang dapat dijadikan bahan renungan, baik oleh pelukis
 maupun orang lain yang jadi peminatnya.”
(D. Sirojuddin AR dalam Belajar Kaligrafi: Terampil Melukis,  Jld. 7)
“Keindahan kaligrafi adalah anugerah Allah dan setiap kaligrafer telah mendapatkan bagiannya masing-masing berdasarkan pembagian Allah.  Maka, tidak boleh saling bertarung dengan karya orang lain atau mengejek akibat salah paham, karena itu semua adalah bagiannya yang diterimanya dari Allah.”
(Sayid Abdul Kadir Abdullah bergelar Haji Zaid dari Mesir dalam Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam)
“Aku melihat bahwa manusia tidak menggores suatu tulisan di suatu hari, kecuali besoknya berkata: Kalau ini dirubah tentu lebih baik, kalau ditambah ini dan itu pasti lebih bagus lagi, kalau ini yang didahulukan mungkin lebih afdal, bila ini ditinggalkan pasti lebih indah. Ini ungkapan paling sering,
dan hanya menunjukkan rasa kekurangan pada kebanyakan manusia.”
(Al-Imad al-Asfahani dalam Tarikh al-Khat al’Arabi wa A’lam al-Khattatin)
“Prestasi seni rupa Muslim yang sukses luarbiasa, terbesar dan paling akrab dengan jiwa kaum Muslim adalah kaligrafi (seni menulis indah). Kaum Muslimin memilih kaligrafi sebagai media utama pernyataan rasa keindahannya karena tak ada bentuk seni lainnya yang mengandung abstraksi
yang demikian lengkap dan mutlak.”
(Isytiaq Husain Quresyi dalam Seni di dalam Peradaban Islam)
9
“Kaligrafi adalah kebun raya ilmu pengetahuan.”
(Abu Dulaf al-‘Ajli dalam Tarikh al-Khat al’Arabi wa A’lam al-Khattatin)
“Kaligrafi adalah seni suci, karena dengan kaligrafi inilah Alquran, wahyu Allah diteruskan kepada manusia…. Kaligrafi Arab juga mempunyai makna estetis ikonographis dalam seni peradaban Islam.”
(M. Abdul Jabbar Beg dalam Seni di dalam Peradaban Islam)
“Pena adalah kendaraan kecerdikan. Dengan tangis pena, buku-buku tersenyum.”
(Al-Utabi dalam Tarikh al-Khat al’Arabi wa A’lam al-Khattatin)
“Tetesan airmata seorang gadis cantik di pipinya tidaklah lebih indah daripada tetesan tinta di pipi buku.”
(Ahmad bin Yusuf dalam Tarikh al-Khat al’Arabi wa A’lam al-Khattatin)
“Jangan kalian sangka bahwa keindahan kaligrafi membahagiakan saya,
Tidak pula kedermawanan kedua telapak tangan Si Hatim Al-Tha’i.
Saya hanya membutuhkan satu hal,
Yaitu untuk memindahkan noktah huruf kha’ kepada tha’.”
 (Syair Arab dalam Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam)
Khat=tulisan,  hazh=penghasilan
“Wahai para penulis, berlomba-lombalah dalam memperindah aspek-aspek sastra, pahamilah agama, mulailah dengan mempelajari ilmu kitab Allah lalu bahasa Arab, karena ia menjadi pemanis bahasamu, kemudian perbaikilah tulisanmu karena ia sebagai penghias kitab-kitabmu, riwayatkanlah syair-syair, kenalilah keunikan dan makna-maknanya, kenalilah hari-hari orang Arab dan non Arab, kejadian-kejadian dan perjalanan hidup mereka karena yang demikian akan mendukung tercapainya cita-citamu.”
(Abu Hamid al-Katib, wasiat kepada orang-orang seprofesinya dalam Al-Balaghah al-Wadihah)
“Di dalam kebenaran ada kebaikan dan keindahan, di dalam keindahan ada kebenaran dan kebaikan.”
(Dany Huisman dalam ‘Ilm al-Jamal)
“Alquran turun bukan berdasarkan huruf, tapi bunyi. Sedangkan huruf-hurufnya datang dan dimodifikasi setelah Alquran turun. Dan huruf itu mengikuti pola-pola bunyi, bukan bunyi mengikuti huruf. Maka, huruf berhak untuk diubah-ubah, sementara bunyi Alquran tidak bisa diubah-ubah. Sekiranya mazhab-mazhab kaligrafi itu bertambah subur, maka itulah kondisi yang lebih bagus.”
(D. Sirojuddin AR dalam Jurnal Islam 2001)
10
“Kaligrafi, agaknya, sangat mudah membias pada seluruh karya seni bahkan segala perabotan yang serba Islami. Dan, anak-anak muda seperti sangat ‘keranjingan’ terhadap kegiatan yang serba kaligrafi.”
(D. Sirojuddin AR dalam Seni Kaligrafi Islam)
“Karena tulisan itu mempunyai dua aspek: aspek komunikatif dan aspek ekspresif…. Kedua aspek ini dalam sebuah lukisan saya menjadi satu dan tidak bisa dipisahkan…. Keduanya simultan lahir di dalam kanvas dan saling mendukung secara struktur.”
(A.D. Pirous dalam A.D. Pirous: Vision, Faith and Journey in Indonesian Art, 1955-2002)
“Penjelasan di lidah, kaligrafi di penjelasan. Kaligrafi adalah salahsatu dari dua lidah, keindahannya adalah salahsatu dari dua kefasihan. Sungguh mengagumkan: pena minum kegelapan dan melafalkan cahaya.”
(Abdul Hamid al-Katib dalam Al-Balaghah al-Wadihah)
“Kaligrafi adalah lidahnya tangan, kecantikan rasa, duta akal, penasihat pikiran, senjata pengetahuan, penjinak saudara dalam pertikaian, kawan bicara jarak jauh, penyimpan rahasia, dan gudang rupa-rupa permasalahan.”
(Ibrahim bin Muhammad al-Syaibani dalam Tarikh al-Khat al’Arabi wa A’lam al-Khattatin)
“Seorang penulis kaligrafi membutuhkan atribut, di antaranya adalah bagusnya rautan kalam, pemanjangan ruasnya, tingkat kemiringan potongannya; kepiawaiannya menggoyang jemari, menorehkan tinta menurut kadar kelebaran huruf, menjaganya dari kekosongan tinta, penutulan tanda baca pada khat serta peneraan noktah untuk teks, sampai keserasian goresan dan manisnya penggalan sub-sub.”
(Al-Hasan bin Wahab dalam Falsafatu al-Fann ‘inda al-Tauhidi)
“Agama Islam melarang untuk merepresentasikan wajah Allah atau Nabi Muhammad dan tubuh manusia dalam beberapa situasi. Karena itu, kaligrafi menjadi elemen dekorasi paling dasar
di masjid dan seluruh monumen yang lain.”
(Georges Jean dalam Writing The Story of Alphabets and Scripts)
“Seorang kaligrafer sebaiknya mengerti bahasa Arab. Pemahaman bahasa Arab itu menjadi lebih penting, karena hampir semua kaligrafer, dengan sendirinya, akan berhubungan dengan Alquran.
Salah titik saja, bisa berakibat fatal.”
(D. Sirojuddin AR dalam Republika 1995)
11
“Tidak hanya menggoreskan pena atau mencampur warna, saya juga telah menganggap khat  sebagai ilmu pengetahuan yang harus ditekuni dengan sepenuh hati dan akal. Ternyata, yang saya temukan hanyalah pertanda bahwa ilmu Allah itu memang tidak pernah kering.”
(D. Sirojuddin AR dalam Panji Masyarakat 1999)
“Gagasan untuk menggoreskan pena atau kuas seakan-akan tidak habis-habisnya. Terus-menerus terbuka kemungkinan baru untuk berekspresi. Huruf-huruf Arab seakan menjadi materi hidup
yang sangat plastis dan acapkali di luar perhitungan.
Di depan kanvas, saya seolah-olah berada di tengah padang yang tak bertepi.”
(Didin Sirojuddin AR dalam Panji Masyarakat 1999)
“Kaligrafi kekal sepanjang masa setelah kepergian penulisnya,
meskipun penulis kaligrafi terpendam di bawah tanah.”
(Al-Hafizh Usman dari Turki Usmani dalam Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam)
“Telah pupus raja kaligrafi,
Pena-pena melipatkan benderanya karena duka atas kepergiannya.
Dan melipatgandakan keluh tempat berpijak,
Setelah kemegahan lama tergenggam di tangannya.
Karena itu telah kukatakan di dalam tarikhnya:
Zuhdi telah meninggal, semoga rahmat Allah atasnya.”
(Syair atas kepulangan al-khattat Abdullah Zuhdi dari Turki Usmani dalam Al-Wasit fil Adab al-‘Arabi wa Tarikhikhi)
“Pabila setengahmu hapus nyawa nangislah sisanya,
Sebab satu sama lain akrab senantiasa.
Bukan ku ‘lah muak hidup di dunia
Tapi, kepalang kudipercaya sumpah mereka
Maka, cerailah tangan kananku tercinta.
Kujual kepada mereka agamaku dengan duniaku,
Namun mereka halau aku dari dunia mereka
Sesudah mereka gasak agamaku.
Kugoreskan kalam sekuat tenagaku ‘tuk melindungi nafas-nafas mereka.
Duhai malangnya…. bukannya mereka melindungiku!
Tiada ni’mat dalam hidup ini
Sesudah senjata kananku pergi tiada arti.
12
Duh hayatku nan malang tangan kananku telah hilang.
Hilanglah, segala arti tergusur hilang.”
(Ibnu Muqlah sesudah tangan kanannya dipotong karena fitnah dalam Al-Wasit fil Adab al-‘Arabi wa Tarikhikhi)
“Dengan bisa membaca dan bisa menulis itu, sebenarnya manusia tidak boleh bodoh. Manusia itu harus bisa mengembangkan pengetahuan. Harus mempergunakan otaknya…. harus mempergunakan akalnya supaya selalu memperbaiki keadaan. Meningkatkan (kualitas) nilai yang ada dalam kehidupan ini.”
(A.D. Pirous dalam A.D. Pirous: Vision, Faith and Journey in Indonesian Art, 1955-2002)
“Kaligrafi secara umum memiliki tiga sifat yang berturut-turut tergantung kepentingannya, yaitu: jelas  bacaannya, mudah menuliskannya, dan indah tampilannya.”
(Habibullah Fada’ili dari Syria dalam Atlas al-Khat wal Khutut)
“Kaligrafi termasuk unsur rupaka dilihat dari watak-wataknya secara umum yang menentukan kesanggupannya mengekspresikan gerak dan akumulasi. Gerak di sini adalah gerak-gerak tarian orisinal secara bebas. Sedangkan akumulasi atau penyusunan huruf sebagai unsur ornamen tergambar dalam tipe-tipe menukik, memutar, bergerak berkeliling secara bebas, dan menyentak.”
(Fauzi Salim Afifi dari Mesir dalam Silsilatu Ta’lim al Khat al-‘Arabi: Dalil al-Mu’allim)
“Di antara kesempurnaan tulisan adalah saat penulis membebaskan tempat-tempat
yang dapat menimbulkan kekeliruan dalam membaca.”
(Fauzi Salim Afifi dari Mesir dalam Silsilatu Ta’lim al Khat al-‘Arabi: Dalil al-Mu’allim)
“Setiap kali aku menggores sebuah baris, hilanglah satu baris dari umurku.”
(Sayid Ibrahim dari Mesir dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa A’lam al-Khattatin)
“Tangan kaligrafer menuntunnya ke surga karena menulis ayat-ayat Alquran.”
(Mus’ad Mustafa Khudir al-Bursaid dari Mesir dalam Koleksi Karya Master kaligrafi Islam)
“Seorang khattat, ketika pikirannya sedang kosong saat berkarya, ia mengembalikan pandangan kepada tulisannya secara bebas, hingga dapat melihatnya dengan gambaran yang bukan gambaran sebelumnya dan mampu menilai sendiri tulisan dan dirinya.”
(Fauzi Salim Afifi dari Mesir dalam Silsilatu Ta’lim al Khat al-‘Arabi: Dalil al-Mu’allim)
13
“Kehadiran sanggar-sanggar dan aktivitas kaligrafi yang tambah semarak menuntut kehadiran para guru dan pembina kaligrafi yang profesional. Guru atau pembina yang ‘sekedar bisa’ atau ‘asal tahu’, untuk saat ini, sudah tidak memenuhi syarat lagi karena akan terseret-seret oleh anak-anak muda
yang terus bergerak maju.”
(D. Sirojuddin AR dalam Cara Mengajar Kaligrafi:  Pedoman Guru)
“Kaligrafi Arab merupakan jenis tulisan yang elastis, tampil dengan bentuk keindahan yang sensitif. Seperti dalam kaligrafi Cina, seorang kaligrafer dalam seni khat memiliki daya sensitivitas yang tinggi di samping kepandaian teknik menulis. Maka, nilai pribadi seniman tampak pada setiap jenis karya seni khat yang menjadi sumber pertumbuhan dari gaya dalam kaligrafi Arab.”
(Wiyoso Yudoseputro dalam Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia)
“Haruslah lahir nuansa-nuansa baru yang memperkuat penciptaan yang lebih menyeluruh, sehingga kelenturan kaligrafi dapat dibuktikan dalam kemungkinan-kemungkinan mengolah dari visi-visinya yang pusparagam. Arus perkembangan ini akan bergerak terus tanpa bisa dibendung.”
(D. Sirojuddin AR dalam Dinamika Kaligrafi Islam)
“Yang pertamakali menerakan Basmalah di awal tulisannya adalah Nabi Sulaiman as. Orang-orang Arab sendiri dalam pembuka kitab-kitabnya mengucapkan Bismika Allahumma hingga turun ayat dalam surat Hud Bismillahi majreha wa mursaha, maka Rasulullah SAW pun menuliskannya sampai turun ayat  Qul ud’ullaha awid’ur Rahmana… dalam surat Al-Isra’ atau Bani Isra’il. Setelah itu, turunlah ayat Innahu min Sulaimana wa innahu Bismillahir Rahmanir Rahim yang selanjutnya menjadi amalan yang disunnahkan.”
(Naji Zainuddin dari Irak dalam Musawwar al-Khat al-‘Arabi)
“Seni iluminasi adalah jembatan antara seni kaligrafi dan seni lukis. Walaupun berhubungan dengan kaligrafi, seni lukis (di dunia Islam) dianggap seni yang lamban dan kedudukan pelukis tidaklah
seranking dengan kaligrafer.”
(Philip Bamborough dalam Treasure of Islam)
“Kaligrafi itu seperti lukisan atau musik yang menuntut kesiapan khusus yang tidak bisa diterima oleh
semua orang. Di antara seribu kaligrafer Turki, paling-paling bisa kita sebut sepuluh orang
yang memiliki keunggulan dalam keindahan kaligrafinya.”
(Celal Esad Arseven dalam Al-Lauhat al-Khattiyah fi al-Fan al-Islami)
14
“Kaligrafi disebut bagus apabila bentuk-bentuk hurufnya indah, dan disebut buruk
 apabila bentuk-bentuk hurufnya jelek.”
(Naji Zainuddin dari Irak dalam Musawwar al-Khat al-‘Arabi)
“Keindahan kaligrafi Arab lebih banyak berbicara pada hiasan arsitektur. Kemegahan masjid-masjid besar di negara-negara Islam tidak hanya terletak pada konsep disain arsitekturnya,
tetapi juga pada nilai dekoratifnya.”
(Wiyoso Yudoseputro dalam Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia)
“Kita dapat memastikan, bahwa membentuk seorang kaligrafer lebih sulit daripada membentuk seorang pelukis. Meskipun pelukis telah mencapai tingkat kemampuan, ia takkan sanggup meniru sebuah karya kaligrafi yang indah apabila belum menguasai kaedah penulisan khat yang benar.”
(Celal Esad Arseven dalam Al-Lauhat al-Khattiyah fi al-Fan al-Islami)
“Bagusnya rautan kalam adalah setengah khat, dan mengetahui tatacara memotongnya adalah setengah sisanya. Karena sesungguhnya, setiap gaya khat mempunyai potongan tersendiri.”
(Al-Maqri al-‘Ala’i dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)
“Barangsiapa kurang bagus caranya menorehkan tinta, meraut dan memotong kalam, memposisikan kertas, dan mengatur gerakan tangan waktu menulis, berarti dia sedikit pun tidak mengerti cara menulis.”
(Al-Maqri al-‘Ala’i dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)
“Penguasaan khat adalah indahnya rautan.”
(Ibnu Muqlah dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)
Khat seluruhnya adalah kalam.”
(Al-Dahhak bin Ajlan dalam Tarikh al-Khat al-‘Arabi wa Adabihi)

Hiasan Mushaf

Berikut ini adalah contoh kaligrafi hiasan mushaf hasil lomba kaligrafi pada Pospenas (Pekan Olah Raga Dan Seni Pondok Pesantren Nasional) ke V di Surabaya tahun 2010. Untuk melihat foto dengan jelas , silahkan klik gambarnya. Untuk download foto-foto tersebut silahkan KLIK DISINI


Untuk download foto-foto tersebut silahkan KLIK DISINI

DAFTAR NAMA GURU KALIGRAFI SE-INDONESIA



NAMA GURU KALIGRAFI INDONESIA
1. Provinsi Nangroe Aceh Darussalam
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Drs. H. Muhammad Ibrahim ( Cut Maya)
Lr. Seulanga No.22 Gampong Pineung, Banda Aceh, NAD
2.
Drs. Sayed Rabadian
jl. T. Nyak Arif, No.159  G. Lingke, Banda Aceh (Depan Polda), NAD
3.
H. Zulfikar M. Arsyad
Jl. Medan-B Aceh,Tgk Irsyad, Ulee Madon, Aceh Utara, NAD 24355
4.
Drs. Usman Musa
SDN 67 Percontohan, Jl. St Maliki Saleh, Lorong H.KA. Jalil, Lambangan, Banda Aceh, NAD
2.  Provinsi Sumatera Utara
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Abdurrahman Hasibuan, S.Pd.I
Jl.Pertahanan, Gang Keluarga, No.75, Petumbak, Deli Serdang, Sumatera Utara
2.
Muslim
Sanggar Kaligrafi Al-Hafiz, Jl. RSU 7, Kel. Pasar Baru, Padang Hulu, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara
3.
Drs. Satria Sakti Nasution
Jl. Bengkel  No.B11, Pulo Brayan, Bengkel, Medan, Sumatera Utara 20239
4.
Azhari TH Nasution, S.Ag
Jl. Aluminium 1, No.23, Lingk 16, Tanjung Mulia, Medan, Sumatera Utara 20241
5.
Drs. M. Asli
Jl. Makassar No.5, Pematang Siantar, Medan, Sumatera Utara 21111
3.      Provinsi Sumatera Barat
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Drs. H. Irhash A. Shomad, M.Hum
Jl. Bypass, Km.8 RT.03/03, No. 09 Padang, Sum-Bar
2.
Drs. H. Muhapril Musri, M.Ag
Wisma Indah IV-Blok RII, No. 07, Astek, Kulumbuk, Kuranji, Padang, Sum-Bar
3.
Am. Y.Dt. Garang
Jl. Gajah No.2, Air Tawar Barat , Padang, Sum-Bar 25131
4.
Drs. Bustanul Syukri
Komp. Unand Blok B 3/16/03, Gadut, Padang, Sum-Bar
4.      Provinsi Sumatera Selatan
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Drs. K.H. A. Baidhowi
Ds. Sukaraja, Kp. 3, Kec. Buay Madang, OKU Timur, Sumatera Selatan
2.
Drs. Kailani, MA
Jl. K.H.A. Azhari, RT.15/5 No.745, Kel. Tangga Takat, Sebrang Ulu II, Palembang Sumatra Selatan
3.
A. Madjid
Komplek Masjid Jami’ Bukit Asam, Tanjung Enim, Sumatera Selatan
4.
Suryadi, S.Ag
Jl. Sriwijaya No.220, RT.04/02, Km.5,5 Palembang, Sumatera Selatan
5.      Provinsi Riau
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Syamsurizal, S.Ag
Jl. Purwodadi, Kompleks Ruko No.5, Panam, Pekan Baru, Riau
2.
Hj. Umi Kalsum, S.Ag
Jl. Bahagis, Gang Samad RT. 11/03, Kel. Bagan Timur, Bagan Siapiapi, Rokan Hilir, Riau 28951
3.
Nana Natsiruddin, S.Pd.i
Pesantren Al-Jauhar, Jl.Abdul Rohman, Asrama Tribrata, Kel. Pematang Pudu, Duri, Mandan, Bengkalis, Riau
4.
Drs. H. Muktamar
Jl. Sembilang Indah (Paus Ujung) No. 09. RT.01/13, Tangkerang Tengah, Pekanbaru, Riau 28282
5.
Drs. K.H Ali Muhsin
Jl. Satria, Kel.Air Jamban, Mandan, Bengkalis, Riau
6.
Drs.  H. Achmad Syafruddin, MA
Jl. Al-Furqon, No.14A, Kel.Pesisir,  Kec. Lima Puluh, Pekanbaru, Riau
6.      Provinsi Kepulauan Riau
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Drs. Alimuddin
MIN Jln. Golden Prawn, Bengkong Laut, Batam, Kepulauan Riau 9432
2.
Siti Rahayu
Jl. Nusantara KM.12,5 Kp. Lanud AL, No.2 Tanjung Pinang, Kep. Riau
3.
Mustofa Jamaluddin
Jl. Anggrek Merah, Gg. Anggrek Bulan RT.4/I, Kel. Kp. Bulang, Tanjung Pinang Timur, Kota Tanjung Pinang, Kep Riau
4.
M. Natsir
Qur’an Centre, Sengkuang, Batam, Kep. Riau
5.
Saifullah
Qur’an Centre, Sengkuang, Batam, Kep. Riau
7.      Provinsi Jambi
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Abdul Ghani Muqri
Jl. Bahari RT.022, Tungkal II, Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat, Jambi
2.
Drs. H.M. Husni Thamrin
Jl. Mandala No. 18. RT. 13, Kel.Tungkal II Kuala Tungkal, Jambi 36514
3.
M.Ramli Hannan
Pondok Pesantren Riyadhul Jannah, Tanjung Harapan,Sei. Dualap, Tanjab Barat, Jambi
4.
H. Umar Husin
Jl. Jend. A. Yani RT.11 Tungkal 4, Kuala Tungkal, Tanjab Barat, Jambi
5.
Abdul Anas, S.Pd.i
Kampong Baru RT.13, Kel. Dusun Sarolangun, Kec/Kab.Sarolangun, Jambi
6.
M. Ilmu
Pondok Pesantren AS’AD Jl. K.H. A Qodir Ibrahim, Kel. Olak Kemang, Sebrang Kota, Kota Jambi, Jambi
8.      Provinsi Bengkulu
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Drs. Komaruddin
Jl.Timur Indah 4C No.25 RT.22/02 Kel.Sido Mulya,Gading Cempaka, Kota Bengkulu 38229
9.      Provinsi Lampung
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Drs. H. Arsyad Sobby Kesuma, M.Ag
Jl. Imam Bonjol, Gang Durian No.2, Gedong Air, Bandar Lampung 35151
2.
Karyoso, S.Pd.I
Sukoharjo 2, RT.5/3, Kec. Sukoharjo, Tanggamus, Lampung 35374
3.
Adung Sundara, S.Pd.i
SABIKA ( Sanggar Bina Bakat Kaligrafi Al-Qur’an) PonPes Putra-Putri Tahfidzul Qur’an “Mardhotillah” Kampung Dono Arum, Seputih Agung, Lampung Tengah, Lampung
4.
Basuki Asyamir, S.Ag
Perum Griya Sejahtera Blok J-10 RT.005 Gg. SDN 2 Gunung Terang,Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung 35152
5.
Azmi Husairi
Pesawaran, Lampung
10.  Provinsi Bangka Belitung
NO
NAMA
ALAMAT
1.
H. A. Hijazi Jama’in
Pontren Al-Islam, Kemuja, Mendo Barat, Kep.Bangka Belitung
11.   Povinsi DKI Jakarta
NO
NAMA
ALAMAT
1.
H. Amir Hamzah Zaman
Komplek Guru Asy-Syafiiyah, Bali Matraman, Jakarta Selatan
2.
Suhaili Hafiz, SS
Jl. Muamalah VI No.33 RT.03/03 Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan
3.
Hj. Nur Haeni, SS
Jl. Meruya IlirRT.002/01 No. 27Kel, Srengseng, Kembangan Jakarta Barat 11630
12.   Provinsi Banten
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Drs. H.D. sirojuddin AR, M.Ag
Jln. Semanggi I/26, RT.001/03, Cempaka Putih, Ciputat Timur,Tangerang Selatan, Banten 15412
2.
Drs. Sarbani
Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar, Jl. Soleh Ma’mun No.16, Janjon, Serang, Kota Serang, Banten
3.
H. Mahmud Arham
Lengkong Ulama No.44, Lengkong Kulon Pagedangan, Tangerang Banten 15331
4.
H. Isep Misbah, S.Ag
Villa Dago Tol Blok D11 No.14, Sarua, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten
5.
Ujang Badrussalam
Jl. WR Supratman No. %2, RT.002/04, Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tengerang Selatan, Banten 15412
6.
Ahmad Tholabi Kharlie, S.H.I, MA
Jl. Salak 2 No. 129,RT.03/02, Pondok Benda, Tangerang Selatan, Banten
7.
H, Suharno, S.Pd.I
Jl. K.H. Musthofa Komplek MAN Cipondoh,RT.02/04, Kel. Poris Plawad Utara, Cipondoh, Kota Tangerang, Banten 15141
8.
Uud Mas’udin, S.Pd.I
Perum Aster 3 Blok A3 No.32, RT,07 Jatake, Padegangan,Tangerang, Banten
9.
H.M.Edi Amin, MA
Jl. Legoso Raya, Gg Hikmah No.20A, RT>03/01, Pisangan Ciputat Timur Tangerang Selatan Baten 15419
10.
H. Nur Kholis
Jl. Rajawali Raya, Gg Lurah. RT.03/03 Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten
11.
Hj. Ernawati, S.Ag
Jl. Rajawali Raya, Gg Lurah. RT.03/03 Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten
12.
Kurnia Agung Robiansyah, S.E.I
Jl. Semanggi II/20, RT.003/03, Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten
13.
Marnus, S.S
Jl. Sukamulya, Komplek Griya Serua Permai Blok C No.14, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten
14.
H.M. Zhohiruddin, S.S
Jl. Semanggi I/26, RT.001/03, Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten 15412
15.
K.H Sundusi Ma’mun
Pontren Al-AmanahAl-Gontory, Kel. Perigi Baru, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten
16.
Yayat Suryati, S.Ag
Yayasan Pendidikan Islam Al-Idrus, Jl. Maulana Hasanuddin, Rancagawe, Ds. Aweh, Kec. Kalang Anyar, Rangkasbitung, Lebak, Banten 42319
17.
Nur Hasan Ghozali, S.H.I
Jl. Cendana Blok C2 No.6, Perum Komplek Taman Pondok Cabe, RT.02/08, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten
18.
Saiful Huda, S.S
Jl. Semanggi I/26, RT.001/03, Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten 15412
19.
Opik Rofiuddin
Pontren Al-AmanahAl-Gontory, Kel. Perigi Baru, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten
13.   Provinsi DI Yogyakarta
NO
NAMA
ALAMAT
1.
H. Humaidi Ilyas
Tambak RT 12 Kepuhwetan, Wirokerten, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta 55194
14.   Provinsi Jawa Barat
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Drs. K.H. Wahidin Lukman, MSR
Jl. Batu Permata No.05 Buah Batu, Bandung, Jawa Barat 40287
2.
K.H. Moh Asmu’I Akhyar (GRISKA)
Bungbulang RT.1/6 Sindang Raja, Sukaluyu, Cianjur, Jawa Barat 43284
3.
H.M Abdul Wasi AR
Teras BuahBatu 45 Bandung, Jawa Barat
4.
 Prof. Dr. H.Dede Nurzaman, MA
Jl. Dadaha No. 18, UPI Kampus Tasikmalaya, Jawa Barat
5.
K.H. Ma’ruf Mahmud
LPPK Hilyatul Qur’an, Warnasari Timur, RT. 01/12 No. 23 (Depan Kantor Telkom) Lewiliang, Bogor, Jawa Barat 16640
6.
H. Momon Abdurrahman Syarif
Jl. R. Demang Arya, RT.02/02 Warujaya, Parung, Bogor, Jawa Barat 16330
7.
Drs. Suranta, M.Hum
Program Studi Arab FIB UI, Kampus Baru UI, Depok, Jawa Barat
8.
K.H. Moh. Qosim Muqowm
Pengasuh Pontren At-Taufiq, Gintungrajeng, RT.01/01, Ciwaringin , Cirebon, Jawa Barat
9.
H. Ahmad Hawi Hasan, S.Pd.I
Pondok Pesantren “Al-Falak” Pagentongan RT. 02/VI, Loji, Ciomas, Bogor, Jawa Barat
10.
H. Edy Syakroli SYR
Jl. Mayor Abing Sarbini No. 34, Kp. Kaum, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat
11.
Drs. H. Asep Ridwan Dagustani HS
Komplek Al-Masturiyah, Tipar, Cisaat, PO BOX 33, Sukabumi, Jawa Barat
12.
Hj. Ery Khaeriyah, M.Ag
Yayasan Al-Kamal, Perum Bumi Kepompongan Indah I Blok.A No. 16 RT 10/05 Kec. Talun, Cirebon, Jawa Barat
13.
Drs. H. M. Hamid Ibrahim, MM
Jl. Pahlawan No. 28 Babakan Jasinga, Bogor, Jawa Barat
14.
H. Uus Qustholani, S.Ag
Belakang Bank BNI, Gang Arjuna No. 305, RT. 28/06, Blok Kraton, Rengasdengklok Selatan, Karawang, Jawa Barat 41352
15.
K.H. Imron Ismaeil Ahmad
“Dar Al-Tauhid” No.333, RT.02/01 Tulungagung, Kertasemaya, Indramayu, Jawa Barat 46151
16.
Ahmad Faqih Hasyim, M.Ag
Jl. Mayor Dasuki No.100, Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat 45273
17.
Asep M. Tamam, MA
YPPI (Pon-Pes) Al-Misbah, Kp/Kel.Sirnagalih, Indihiyang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat 46151
18.
Ahmad munir
Jl. Letnan Arsyad RT.02/01, Kayuringin No. 30 Kota Bekasi Selatan, Jawa Barat 17144
19.
H. Hasanuddin, S.Tp, S.Pd.I
Gang Bapa Hada 49, Sukawangi Atas RT.01/13, Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat
20.
H.M. Ohan Jauharuddin, S.Ag
Pesantren Kaligrafi Alqur’an Lemka, Jl. Bhineka Karya No. 53 RT. 03/06  Karamat, Gunung Puyuh, Sukabumi, Jawa Barat 43122
21.
Imam Saiful Mu’minin, S.Pd.I
Pesantren Kaligrafi Alqur’an Lemka, Jl. Bhineka Karya No. 53 RT. 03/06  Karamat, Gunung Puyuh, Sukabumi, Jawa Barat 43122
22.
A. Husaini el-musta’simy
Pesantren Kaligrafi Alqur’an Lemka, Jl. Bhineka Karya No. 53 RT. 03/06  Karamat, Gunung Puyuh, Sukabumi, Jawa Barat 43122
23.
Boby Es-Syawaly El-Iskandar, S.Ag
Pesantren Kaligrafi Alqur’an Lemka, Jl. Bhineka Karya No. 28 RT. 02/06  Karamat, Gunung Puyuh, Sukabumi, Jawa Barat 43122
24.
Thony Salaf
Belakang Madrasah MT/MTs PUI RT. 04/03, Ds. Tenajarlor, Kertasamaya, Indramayu, Jawa Barat 45274
25.
Apipuddin Syarif, MA
Komplek UPN RT.03/05 Bojong, Merung, Limo, Depok, Jawa Barat
26.
Hilmi Munawar, S.Pd.I
Pesantren Kaligrafi Alqur’an Lemka, Jl. Bhineka Karya No. 53 RT. 03/06  Karamat, Gunung Puyuh, Sukabumi, Jawa Barat 43122
27.
Hasyim Asy’ari
Jl. Baypass Sukalila (Depan Balai Desa) Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat 45273
28.
Kholid M. Khamim
Jl. Plered Panembahan 276, Blok Sikendal, Kec. Plered, Cirebon, Jawa Barat
29.
Atang Taryadi
Sanggar Seni Kaligrafi Al-Qur’an (SANGSEKALA) Pon-Pes IkhsanulHasan, Ds. Gintung Kolot, Gintung Kerta, Klari, Karawang, Jawa Barat
15.   Provinsi Jawa Tengah
NO
NAMA
ALAMAT
1.
H. Noor Aufa Shiddik
GRISTA (Griya Seni Tahsinul Khot An-Nur) Langgar Dalem, No. 21 RT.01/01, Kudus, Jawa Tengah 59315
2.
H. Misbahul Munir
Jl. Simpang Sukun, I/73a, Malang, Jawa Tengah
3.
Drs. H. Wahid Adib, M.Si
Pangeran Juru Tengah RT. 01/02 Purworejo Jawa Tengah
4.
M. Ilyas Sukamto
Ds. Dorang RT.03/01, Nalum Sari, Jepara, Jawa Tengah 59466
5.
Turmudzy Elfais
“Naturel Graph” Jl. Muria No. 12 RT.02/01, BAE, Kudus, Jawa Tengah 59352
6.
Ali Rohman
Gentongan Mangrejo RT.01/01, Dawe, Kudus, Jawa Tengah 59372
7.
Moh. Assiri
Pesantren Seni Kaligrafi (PSK) Undaan Lor, RT.03/01, Kec. Undaan Kudus, Jawa Tengah 59372
8.
H. M. Nur Syukron
Kauman Menara No.14, RT.03/01 (Utara Masjid Menara Kudus), Kudus, Jawa Tengah59315
16.   Provinsi Jawa Timur
NO
NAMA
ALAMAT
1.
K.H.M. Faiz A. Rozaq
Perum Permata Asri, Gempeng, Bangil Pasuruan, Jawa Timur 67153
2.
M. Midzhar Achsan
Sanggar Pesantren Kaligrafi Al-Qalam, Jl. Adi Sucipto 25, Sungon Legowa,Bungah, Gresik, Jawa Timur 61152
3.
H.M. Syamsul Huda
Jl. K.H. Abdul Hamid 8/14, Pasuruan, Jawa Timur 67101
4.
Muhtadin KRS, S.Pd.I
Jl.MT. Haryono No. 37 Ponorogo, Jawa Timur
5.
Atho’illah
Jl. Laksda Adi Sucipto 45, Den Anyar, Jomboang, Jawa Timur 61416
17.  Provinsi Kalimantan Barat
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Drs. Edi Purwanto
Jl. Alianyang, Gg Mahakam 57, Singkawang, Kal-Bar
18.  Provinsi Kalimantan Tengah
NO
NAMA
ALAMAT
1.
H. M. Machfud
Jl. Diponegoro No. 02, RT.02/V ( Panarung), Palangkaraya, Kal-Teng 73111
19.  Provinsi Kalimantan Selatan
NO
NAMA
ALAMAT
1.
H. Jazuli, S.Ag
Jl. Batu Merah 2, RT.72. No.27, Sungai Andai, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
2.
Ahmad Raji
MAN kelua, Jl. Baco. No.63, Tabalong, Kal-Sel 71552
3
Hadi Purwanto, S. Pd.I
Pondok Pesantren Al-Falah Putera
Jl. A. Yani, Km.23, Kec. Liang Anggang, Kota Banjar Baru, Kalsel
4
Alamsyah, S. Pd.I
Jl. Persatuan, Rt. 06, Desa Simpang Arja, Kkec. Rantau Badauh, Kab. Batola, Kalsel
5
Drs. H. Suberiani
Jl. Telaga Itar, RT. 04,  Kec. Kelua, Kab. Tabalong, Kalsel
  1. Provinsi Kalimantan Timur
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Zaenudin, S.Ag
Jln. Wolter Mongindsidi, Ds. Labanan Makarti, Kec. Teluk Bayur, Kab. Berau
2.
Syamsul Rizal
Jln. P. Diponegoro no. 48, Ds. Labanan Makarti, Kec. Teluk Bayur, Kab. Berau
3.
Ahmad Hariyanto
Jln. P. Diponegoro, Ds. Labanan Makarti, Kec. Teluk Bayur, Kab. Berau
4.
Muzni Latif
Tumbit Melayu, Kec. Teluk Bayur, Kab. Berau
5.
Solihin
Tumbit Tahap, Kec. Teluk Bayur, Kab. Berau
6.
Abdul Aziz
Bulungan, Kalimantan Timur
7.
Drs. Harun, M.Pd
Samarinda, Kalimantan Timur
8.
M. Nasor
Kamp. Labanan Makmur, kec. Teluk Bayur, Kab. Berau, Kalimanatan Timur
9.
Ahmad Widodo
Ds. Labanan Makarti, Kec. Teluk Bayur, Kab. Berau
10.
Binti Asroriah
Jln. RA Kartini, Ds. Labanan Makarti, Kec. Teluk Bayur, Kab. Berau
11.
H. Gusti Muhammad Sirry
Pon-Pes Darussalam ,  Kompkleks  Pasar Batu Kajang,  Kec. Batu  Sopang, Kabupaten  Paser, Kalimantan Timur
12.
Sohibul Anwar
Jl. Masjid Agung Berau, Kota Tanjung Redeb
13.
Bambang Winaryadi, S. Pd.I
Kec. Sambaliung, Kab. Barau, Kalimanaan Timur
14.
Agus, S, Pd.I
Jl. Masjid Agung Berau, Gang Mulia, Kota tanjung Redeb, Kab. Berau, Kalimantan Timur
15.
Agus, S.Pd.I
Kota Samarinda
16.
H. Artoni
Komplek Bumi Rengganis 6C, RT.31 No.56 Kel. Gn. Bahagia, Balikpapan, Kal-Tim
17.
Agus Salam
Guru Kaligrafi Pon-Pes/ Darul Ihsan, Jl. Siti Aisyah RT.28, Teluk Lerong Ilir, Samarinda Ulu, Kal-Tim
18.
Ahmad Sirajuddin, S.Ag
KUA Tg Palas, Kandepag Bulungan, Kal-Tim 77212
19.
Sholihin S.Ag
Jl. AW Syahrani No.62 RT09, Perumnas Batuampar, Balikpapan
20.
H. M. Shobirin
Pesantren PPKP Ribatul Khoil
Jln. K. Ahmad Muhsin, Rt. 03, Kel. Timbau, Kota  Tenggarong, Kab. Kutai Kartanegara, Kaltim
21.  Provinsi Bali
NO
NAMA
ALAMAT
1.
2.
3.
4.
5.
22.  Provinsi Nusa Tenggara Barat
NO
NAMA
ALAMAT
1.
H. Ratihan Wiyata
Kantor UPT DikDas, Apitaik Lauk, Ds. Mertak Tombak, Kec. Praya, Lombok Tengah. NTB
2.
Sun’an Aidi, S.Ag
Telaga Urung, Ds. Masbagik Utara, Kec. Misbagik Utara, Lombok Timur, NTB 83661
3.
Jauhari Arifin
Dusun Lamunga RT.03/03, Ds. Batu Putih, Kec. Taliwang, Sumbawa Barat, NTB
4.
5.
23.  Provinsi Nusa Tenggara Timur
NO
NAMA
ALAMAT
1.
2.
3.
4.
5.
24.  Provinsi Sulawesi Barat
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Wiyata
2.
3.
4.
5.
25.  Provinsi Sulawesi Utara
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Faisal Samarati, SHI
MTs Darul Ulum Kota Mubagu, Jl. H. Zakaria Imban No. 97, Kel. Mongondow, Kotamubagu Selatan, Sulawesi Utara95717
2.
Ismail K. Usman, M.Pd.I
Perum Rindu Sekar Alam Blok A90, Simompo Link II Manado, Sulawesi Utara
26.  Provinsi Sulawesi Tengah
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Zidiarman, S.Ag
Jl. Setia Budi Lr. Obsesi, No.33C, Palu, Sulawesi Tengah 94113
2.
Moh. Arif, S.Pd.I
Jl. Towua No.82, Kel. Tatura Selatan, Kec. Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah 94126
27.  Provinsi Sulawesi Selatan
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Drs. H. M. Jamal Jamil, MA  
Jl. Mamoa T, No.4 Gunung Sari, Mangasa, Makassar, Sulawesi Tengah
2.
Dr. Abdul Aziz Ahmad, M.Pd
Jl. Dg. Tata I Blok G 9/1, Makassar, Sulawesi Selatan 90224
3.
Syaharuddin, S.Ag
Bontarita No.39 Aeng Batu-Batu, Galesong Utara, Takalar, Sulawesi Selatan 92255
28.  Provinsi Sulawesi Tenggara
NO
NAMA
ALAMAT
1.
2.
3.
4.
5.
29.  Provinsi Gorontalo
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Mahyudin Haleda, S.Ag
Jl. Potanga-Telaga, Komp. Pasar Sore, Ds. Tilote, Tilango, Kab. Gorontalo, Gorontalo
2.
Yusnandar Karim, SHI
H. Simon Abas, Jl. Usman Isa No.69, Hemtu, Kec. Batudua, Kab. Gorontalo, Gorontalo 96271
30.  Provinsi Maluku
NO
NAMA
ALAMAT
1.
2.
3.
4.
5.
31.  Provinsi Maluku Utara
NO
NAMA
ALAMAT
1.
Ujang Bagindi, S.Pd.I
Jl. Cakalang RT.001/02, Kel. Dufadufa, Kec. Ternate Utara, Kota Ternate, Maluku Utara
32.  Provinsi Papua
NO
NAMA
ALAMAT
1.
2.
3.
4.
5.
33.  Provinsi Papua Barat
NO
NAMA
ALAMAT
1.
2.
3.
4.
5.

“PENAWARAN PENULISAN KALIGRAFI PADA DINDING MASJID”

 Harga:
harga penulisan kaligrafi berikut ornament dengan ukuran (60×100 cm) bervariasi di sesuaikan dengan tingkat kerumitan pengerjaan.” Untuk sample dapat di lihat di halaman lampiran gambar” sebagai bahan pertimbangan.
 
Material:
Tulisan kaligrafi lansung pada dinding masjid atau dengan mengunakan media triplek. Cat yang di gunakan adalah jenis acrilic mowilex. Warna di sesuaikan dengan space dan interior masjid. Lafadz kaligrafi yang di tulis adalah ayat-ayat al-qur’an atau hadits sesuai dengan permintaan pihak DKM masjid.
Jenis kaligrafi:
Untuk jenis kaligrafi yag digunakan adalah pilihan dari khat tsulus, naskhi, diwani, diwani jali, farisi dan kufi, atau kombinasi dari beberapa khat tersebut sesuai dengan permintaan pihak DKM masjid.
 
Lama pengerjaan:
Lama pengerjaan untuk satu keliling masjid dengan ukuran 10×10 m, di perkirakan selesai dalam waktu 20 hari.
Cara pembayaran:
Pembayaran 50% setelah terjadi kesepakatan dan 50% sisanya di bayar setelah proses pengerjaan selesai 100%.
 

Contac Person :
Syamsul Rizal       081389289150
  
Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka
JL. Bhineka Karya No. 53, Rt. 003/06 Kelurahan Karamat, Gunung Puyuh, Sukabumi, Jawa Barat 43122

“UNTUK MELIHAT CONTOH DAN FOTO-FOTO DENGAN LEBIH JELAS, SILAHKA KLIK GAMBARNYA SAJA”

proyek PENULISAN KALIGRAFI, ORNAMEN MASJID, RUMAH, KANTOR DAN PANGGUNG MTQ

PRPOPOSAL
PENULISAN KALIGRAFI, ORNAMEN MASJID, RUMAH, KANTOR DAN PANGGUNG MTQ
Alamat : Jl. Bhineka Karya No. 53 , Karamat, Gunung Puyuh, Sukabumi, Jawa Barat
RINCIAN PENGERJAAN KALIGRAFI

Jenis Penulisan
Ukuran
Biaya
Bahan
Ket.
Kaligrafi Dekorasi (berwarna)
80 cm x 100 cm
Rp 400.000 / meter
Cat Mowilex Acrilic
Kaligrafi huruf timbul (berwarna)
80 cm x 100 cm
Rp 800.000 / meter
Semen / tekstur / mika /kaca patri /kaca cermin / kuningan /stainlesstel
Dekorasi pada Kubah Mesjid (berwarana)
Tergantung ukuran kubah
Tergantung ukuran kubah dan kerumitan ornamen
Cat / huruf timbul (Semen / tekstur / mika / kaca patri / kaca cermin / kuningan /stainlesstel)
Sistem borongan
hiasan mushaf (berwarna)
100 cm x 150 cm
Rp 1.500.000
Cat Mowilex Acrilic
Wos (lukisan keramik)
( 1 x 1 ) m eter
Rp 350.000 / meter
Cat Mowilex Acrilic
Pada Dinding dan tiang

Keterangan :

– Registrasi dilakukan dengan cara membayar 50% dari biaya pengerjan, setelah adanya
kesepakatan antara pengurus masjid dengan pihak kami. Sisanya dibayar setelah pengerjaan selesai (paling lambat 1 minggu setelah pekejaan selesai).
– Biaya tersebut sudah termasuk biaya peralatan kaligrafi
– Biaya tersebut belum termasuk biaya transportasi
– Lafadz yang ditulis adalah Al-Qur’an, hadits, atau sesuai permintaan pihak DKM.
– Jenis kaligrafi yang digunakan adalah kombinasi khat tsuluts, naskhi, dewani, dewani jali, koufi, farisi dan riq’ah
– Tulisan ditulis langsung pada dinding atau media triplek
– Biaya diatas dapat dinegosiasikan kembali.
                                                                          
pemesanan hubungi :
Syamsul Rizal 0813 892 891 50